Title: Jurnal Ilmiah Langue and Parole
ISSN: 2581-0804 (Print)
E-ISSN: 2581-1819 (online)
Language: English (preferred), Indonesia
Indexed at: SINTA, PKP Index, Google Scholar, Zenodo, OpenAIRE, citefactor.org, Onesearch, GARUDA, BASE, DRJI, ResearchBib, Copernicus, Neliti, Worldcat, Crossref, Dimensions, Scilit, Core
OAI: http://e-journal.sastra-unes.com/index.php/JILP/oai
Articles
Bentuk Komunikasi Santun Petugas Rumah Sakit Terhadap Pasien di Rumah Sakit Daerah Solok Sumatera Barat: Kajian Pragmatik
The aim of this study is to find out types and maxim of politeness that occurred between health workers and the patient. In conducting this reseacrh, the results obtained with the research method used is a qualitative descriptive method. In collecting the data this research used observational method, this method followed by note taking technique and the analysis method used padan pragmatics method. The result of this research shown that the news sentences occupy the top position, followed by imperative sentences. Question sentences are occurred in the third position that are often used by health workers when communicating with the patinets at Solok Regional Hospital, West Sumatera.
Politeness Strategies Between English Department Students at Dharma Andalas University
The strategy of politeness, and sentence structures are all described and explained in this research of Dharma Andalas University English Department students. Descriptive qualitative analysis is used in this study. A discourse between students studying English literature serves as the research's data source. Data retrieval through the refer technique. This is followed by an open-ended, participatory manner. Data were gathered by recording discussions between Andalas Dharma University English literature students. The study's findings indicate that students of English literature frequently employ sentences that are followed by a request sentence in their interactions with other students of the same subject.The study's findings indicate that students of English Department frequently employ sentences that are followed by a request sentence in their interactions with other students of the same subject. Positive politeness is the most commonly utilized kind. This suggests that the English literature students communicate with a high degree of civility. Positive politeness is most commonly utilized. This suggests that English literature students communicate with excellent manners.
Mandi Balimau Sebagai Tradisi Masyarakat di Minangkabau
Balimau adalah tradisi turun temurun yang diwariskan nenek moyang Minangkabau dan biasanya dilakukan masyarakat di air sungai yang mengalir dan sekarang banyak dilakukan di tempat-tempat pemandian umum. Tradisi mandi Balimau yang dipercaya sejak dulu sampai sekarang masih banyak melakukan mandi Balimau menggunakan jeruk di sungai dan tempat pemandian untuk tujuan membersihkan diri menjelang bulan suci Ramadhan. Dulu, masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat ada tradisi Balimau, mandi di sungai menggunakan Jeruk membersihan diri menjelang Ramadhan. Karena ketika itu belum ada sabun untuk mandi. Di Riau dan Lampung juga ada tradisi mandi Taubat menjelang memasuki bulan suci Ramadhan. Tradisi Balimau semata-mata untuk membersihkan diri, sebelum memasuki bulan Puasa. Namun kini, akibat perkembangan zaman, momen Balimau dijadikan untuk pergi main-main ke tempat wisata serta mandi mandi bertentangan dengan adat dan agama Islam. Dulu membaca atau berniat mandi Balimau dan meluruskan hati, semata-mata untuk membersihkan diri dan mensucikan jiwa memasuki bulan Puasa.
Mandoa Sambareh Bulan Rajab Sebagai Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Padang Pariaman
Tujuan penelitian ini adalah (1) Tradisi Mandoa sambareh di Padang Pariaman dan proses pembuatan sambareh dalam tradisi Mandoa sambareh di Padang Pariaman untuk meningkatkan minat generasi muda dalam menyantap makanan tradisional sambareh. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. metode sastra, yaitu dengan mengumpulkan berbagai bacaan dari sumber-sumber yang ada, kemudian dianalisis dan dipadukan dengan permasalahan yang dipertimbangkan. Bagi sebagian masyarakat setempat, bulan Rajab atau Sambareh juga mempunyai nama lain yaitu “bulan anak”, karena tujuan mereka melaksanakan tradisi ini adalah untuk mendoakan arwah orang yang meninggal seperti orang tua atau anak. Di Padang Pariaman, para pendeta yang mengaji diberi gelar Tuanku, Tuanku adalah orang yang memimpin salat atas nama orang yang mengamalkan tradisi tersebut. Tuanku ini biasanya ada di setiap desa dan diundang ke rumah-rumah penduduk untuk melakukan sambareh mula. Di Sambareh müla terdapat kitab doa khusus yang dibaca pada saat acara müla. Tidak seperti doa-doa kebanyakan karena di dalam buku ini terdapat bacaan khusus untuk berdoa dengan makanan sumbareh. Eksekusi Sambareh müla sendiri biasanya dilakukan pada malam hari, namun ada juga yang sore hari. Biasanya orang yang ingin salat terlebih dahulu menyiapkan sambareh di rumah. Setelah itu warga memanggil Tuanku untuk membacakan doa. Saat tuanku memasuki rumah warga, doa pun dipanjatkan. Sebelum mula tentu ada tujuannya, yang disebut “kaba”. Ka'bah sendiri biasanya merupakan ucapan kepada orang yang telah meninggal, kepada ladang kebaikan, untuk memperlancar rezeki seseorang, tentunya doa bulan kanak-kanak ini tidak luput dari doa ka'bah ini. Setelah selesai salat, tuan rumah mempersembahkan makanan seperti yang biasa dilakukan bagal, yaitu. nasi dan sambal. Ketika makan selesai, sambaraeh disajikan kepada Tuhan. Sambareh ini disajikan dengan saus cocolan. Setelah Sang Guru makan, Sang Guru mencicipi sambareh tersebut, Setelah itu Sang Guru pulang ke rumah, namun sebelum kembali Sang Guru juga menerima sedekah. Menurut kepercayaan masyarakat, sedekah bermanfaat untuk tabungan akhirat dan juga agar doa kita sampai dan diterima oleh Yang Maha Kuasa. Selain sedekah, Tuanku juga diberi sebungkus sambareh untuk dibawa pulang. Begitulah pelaksanaan tradisi sambareh müla yang masih eksis hingga saat ini. Tradisi ini terus berkembang di masyarakat. Karena masyarakat umum mengimani sambareh mula di bulan Rajab, hal ini dikaitkan dengan peristiwa penting bagi umat Islam yang juga terjadi di bulan tersebut. Walaupun bulan Rajab telah digantikan dengan bulan anak-anak atau Sambareh, namun bulan ini merupakan bulan yang dimuliakan, sehingga Padang Pariaman khususnya Padang Pariaman mempunyai tradisi tersendiri di bulan ini. Menurut mereka, Sunnah Nabi bisa kita penuhi dengan makanan, dan makanan tersebut merupakan simbol dalam tradisi. Kalau sekedar bagal, hari-hari biasa juga bisa, namun dengan semaraknya bulan Sambareh, masyarakat pun turut menghormatinya dengan menambahkan sambareh sebagai simbol datangnya bulan Rajab. Generasi muda kita kedepannya diharapkan tetap menjaga tradisi yang ada, karena tradisi seperti müla sambareh mempunyai arti tersendiri bagi masyarakat. Generasi penerus kita hendaknya lebih memperhatikan tradisi karena tradisi bagal merupakan identitas Minangakabau dan Padang Pariaman, khususnya daerah Padang Pariaman. Tradisi ini harus selalu dilestarikan agar tidak punah.Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh diantara 12 bulan penanggalan Hijriah. Sering dikatakan bahwa bulan ini adalah bulan kebaikan, “bulan Allah” dan seterusnya. Keutamaan bulan Rajab yang sering disebutkan yaitu puasa 7 hari di bulan Rajab menutup pintu neraka dan puasa 8 hari membuka 8 pintu surga. Di daerah Padang Pariaman, bulan Rajab sering disebut dengan bulan Sambareh. Sambareh adalah makanan yang terbuat dari tepung beras atau disebut juga serabi. Bagi sebagian masyarakat setempat, Bulan Rajab atau Bulan Sambareh juga disebut dengan nama lain “Anak Kanak Bulan” karena tujuan mereka melaksanakan tradisi ini adalah untuk mendoakan mereka. arwah yang telah meninggal seperti orang tua atau anak yang telah meninggal.
Kearifan Lokal Budaya Mandi Balimau di Minangkabau Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji mengenai budaya mandi balimau di minangkabau dalam menyambut bulan suci ramadhan. Penelitian ini merupakan penelitian yang mengunakan metode kajian literature dan dititik beratkan pada penggunaan data sekunder berupa jurnal, website, ertikel ilmiah yang berhubungan dengan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Budaya Mandi Balimau di Minangkabau merupakan tradisi yang kaya akan makna dan nilai, terutama dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Mandi balimau bukan sekadar mandi fisik, tetapi juga ritual yang mempunyai nilai spiritual yang dalam. Ritual ini dipercayai sebagai sarana untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, menjadikan pikiran lebih tenang, serta mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual untuk memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang suci
Upacara Turun Mandi di Pariaman
Minangkabau terkenal dengan budaya-budaya nenek moyang yang sangat beragam. Budaya budaya tersebut telah ada dari zaman dahulu kala dan terus berkembang di masyarakat. Kebudayaan yang ada tersebut menjadi ciri dan keunikan tersendiri bagi suatu daerah. Dengan adanya suatu kebudayaan atau tradisi disuatu daerah akan menjadikan daerah tersebut lebih berwarna dalam system social masyarakatnya. Kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat akan mencerminkan tingkah laku, sikap dan sekaligus mencerminkan kepribadian masyarakat di suatu daerah. Sudah semestinya kita sebagai masyarakat yang ada didaerah tersebut menjaga dan melestarikan kebudayaan setempat. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, tradisi-tradisi yang ada sudah tergerus, salah satunya yaitu tradisi upacara turun mandi. Upacara turun mandi salah satunya terdapat di Pariaman, Sumatera Barat. Upacara ini sangat kompleks mulai dari sejarah dan tata cara pelaksanaannya serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Tradisi ini dikhawatirkan akan tergerus dan bahkan dapat hilang dari daerah tersebut. Oleh karenanya tradisi-tradisi seperti ini harus dilestarikan keberadaannya oleh kita sebagai bangsa Indonesia. Artikel ini dibuat untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai apa itu upacara turun mandi, bagaimana tata cara pelaksanaannya serta nilai-nilai yang terdapat pada upacara turun mandi. Upacara turun mandi ini merupakan tradisi yang terdapat di Sumatera Barat sebagai bentuk syukur masyarakat minang terhadap Allah SWT atas nikmat yang diberikan, yaitu berupa seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Tradisi ini juga sebagai tanda atau simbol bahwa dari sebuah suku atau keluarga telah lahir keturunan baru. Pelaksanaan upacara turun mandi diawali dengan membersihkan rumah sebelum acara dimulai untuk menerima tamu dan menciptakan suasana bersih dan nyaman bagi anak, kemudian dilanjutkan dengan memandikan bayi dengan air yang dicampur berbagai rempah-rempah yang dipercaya mampu membersihkan dan melindungi bayi, lalu orang tua akan membacakan doa untuk anak tersebut untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan bagi sang anak, selanjutnya bayi tersebut diberi nama oleh para tetua adat, dan tahap terakhir yaitu para tamu mengucapkan selamat kepada keluarga bayi tersebut yang biasanya perayaan tersebutakan dihidangkan makanan dan minuman. Upacara turun mandi memiliki nilai-nilai religious, social budaya serta nilai-nilai pendidikan. Upacara ini selain sebagai bentuk syukur karena mendapat keturunan baru juga tujuan utamanya untuk memperkenalkan dan menjalin silaturahmi dengan masyarakat setempat. Membawa bayi keluar dari rumah juga akan mengenalkan anak pada alam sekitar, sehingga pihak keluarga berharap ketika anak tumbuh besar, ia akan mengenal alam, dapat hidup dengan alam serta menikmati banyak atraksi alam atau dalam filosofi Minang dikenal dengan “Alam Takambang jadi Guru”.
Larangan Pernikahan Sesuku di Minangkabau
Minangkabau adalah salah satu suku budaya yang ada di Indonesia. Masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal, yaitu mengambil garis keturunan ibu. Dalam sistem matrilineal, masyarakat Minangkabau harus menikah dengan orang luar sukunya. Oleh sebab itu artikel ini akan membahas tentang pelaksanaan perkawinan adat pada masyarakat Minangkabau sudah sesuai dan tidak melanggar hukum adat setempat, pelaksanaan perkawinan adat sesuku di masyarakat Minangkabau, perkawinan ini adalah perkawinan yang dilarang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum sosiologis, yang menekankan pada penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan hukum secara empiris dengan langsung menuju pada tujuannya. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa pelaksanaan pernikahan adat pada masyarakat Minangkabau berlangsung melalui beberapa proses upacara adat yang melibatkan tetua adat dan tokoh adat. Prosesi pernikahan disebut Baralek. Begitu juga perkawinan sesama suku, atau perkawinan yang dilarang oleh adat, juga melibatkan beberapa prosesi yang melibatkan para tetua dan tokoh adat ketika dilakukan perundingan untuk mencari solusi bagi pelaku perkawinan sesama suku. Selain itu, pelaku perkawinan sesuku akan dikenakan sanksi sesuai adat setempat, seperti pengusiran sepanjang adat oleh penghulu suku, pengucilan dari masyarakat, hingga pembayaran denda sesuai kesepakatan.
Eksistensi Budaya Tabuik di Kalangan Generasi Milenial di Kota Pariaman
Tradisi adalah kebiasaan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi memberikan aturan tentang apa yang dianggap benar dan salah oleh masyarakat. Tabuik adalah warisan budaya yang telah ada di Pariaman selama dua abad yang lalu. Ini adalah ritual atau upacara adat. Tabuik adalah perayaan tahunan masyarakat Pariaman yang diadakan dari tanggal 1 hingga 10 Muharram. Diadakan untuk mengingat kematian Husein Bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW, di Padang Karbela, yang ditunjukkan dengan usungan keranda Tabuik sebagai simbol jasad Husein. Persiapan, pelaksanaan, dan penyelenggaraan upacara melibatkan banyak orang.Studi ini bertujuan untuk meningkatkan peran dan partisipasi generasi muda dalam melestarikan tradisi Tabuik dari Pariaman, Sumatera barat. Tradisi ini telah menjadi warisan turun temurun yang dilakukan setiap tahun. Selain itu, untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang kepekaan generasi muda terhadap pengetahuan tentang kebudayaan dan adat istiadat lain di Sumatera Barat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktur fungsional dan teori peran. Menurut teori fungsionalitas, masyarakat memiliki sistem sosial yang saling berhubungan. Menurut teori peran, perubahan cara berpikir generasi muda menyebabkan perbedaan, sehingga hak dan kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan fungsinya masing-masing.elas bahwa partisipasi generasi muda sangat penting dalam pelestarian dan pengembangan suatu budaya. Perananan generasi muda dapat membantu kemajuan negara. Keikutserataan generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan tradisi Tabuik dapat memastikan bahwa perayaan Tabuik akan tetap ada dan tidak akan hilang oleh kemajuan zaman.
Filosofi Nilai Budaya Matrilineal di Minangkabau dan Hubungannya Dengan Pengembangan Hak-Hak Perempuan di Indonesia
Suku Minangkabau di Barat Sumatera dikenal dengan struktur sosial matrilineal, di mana garis keturunan dan warisan diturunkan melalui jalur ibu. Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh sistem matrilineal terhadap kehidupan sehari-hari, struktur keluarga, dan peran perempuan di dlam masyarakat Minangkabau. Terdapat penekanan pada relevansi perspektif feminisme, mengungkapkan pergeseran dinamika gender, potensi pemberdayaan perempuan, dan tantangan dalam mencapai kesetaraan gender. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai keragaman budaya, sistem sosial, dan perjuangan gender dalam konteks lokal Minangkabau.
Tato Tubuh Sebagai Ekspresi Kepercayaan di Mentawai
Tato tubuh di kalangan masyarakat Mentawai, sebuah kelompok etnis di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia, memiliki peran penting sebagai ekspresi kepercayaan, identitas budaya, dan warisan sejarah. Eksistensi budaya tato Mentawai di Sumatera Barat zaman sekarang yang semakin modren menjadi pertanyaan sebagai kalangan. Kebudayaan tato yang kuat akan asal usulnya dibudayakan secara turun temurun apakah masih diteruskan oleh anakmuda zaman sekarang ini? Proses penatoan yang masih menggunakan teknik, alat, dan bahan yang masih tradisional mungkin menjadi salah satu alasan anak muda sekarang. Kaum anak muda lebih tertarik dengan motif dan teknik tato yang lebih modern, disisi lain sejak dikeluarkan melalui SK No.167/PROMOSI/1954 yang memerintahkan suku Mentawai meninggalkan tradisi tato dan kepercayaan mereka, Arat Sabulungan. Masyarakat Mentawai mulai meninggalkan kebudayaan tersebut dan membangun kehidupan mengikutin zamannya. Namun kebudayaan tato itu sendiri telah menjadi identitas Mentawai yang telah banyak dikenal oleh rakyat Indonesia melalui asal usul, teknik, motif, alat, dan bahan yang digunakan dalam proses tersebut memiliki keunikan tersendiri bagi masyarakat Mentawai. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari informasi mengenai tato Mentawai dari asal-usul hingga keberadaan tato saat ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara studi literatur. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara utuh. Hasil yang kemungkinan ditemukan adalah penerimaan diri, merasa setara dengan orang lain, konsep diri yang dibangun, dan sisa- sisa keberadaan tato yang tidak lagi dibudayakan.Melampaui sekadar ornamen tubuh, tato-tato ini menyimpan makna mendalam yang merangkum simbolisme budaya, kepercayaan spiritual, dan identitas kelompok. Dalam tradisi Mentawai, tato tidak hanya menjadi elemen dekoratif, tetapi juga sarana komunikasi dengan dunia spiritual, perlindungan dari roh jahat, dan penanda status sosial. Proses inisiasi dan pematangan seringkali dihubungkan dengan pemberian tato, menambah dimensi simbolis dalam perjalanan hidup individu. Tradisi lisan turut memainkan peran penting dalam mempertahankan dan meneruskan pengetahuan tentang makna tato dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sementara tato Mentawai mempertahankan nilai-nilai tradisional, dampak globalisasi dan perubahan sosial memberikan tantangan serta peluang untuk memahami dan melestarikan kekayaan budaya ini. Penghormatan terhadap tato Mentawai bukan hanya sebagai seni visual, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai dan cerminan dari perjalanan sejarah masyarakat yang unik ini.
Etika Kato Nan Ampek Dalam Budaya Minangkabau Sebagai Pedoman Dalam Berkomunikasi
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) yang menggunakan metode deskriptif-analitis. Sumber-sumber data diperoleh dari sumber prier maupun sekunder. Tulisan ini fokus kepada Etika Kato Nan Ampek Dalam Budaya Minangkabau. Kato nan ampek telah memberikan ajaran dan aturan dalam berkomunikasi kepada lawan yang diajak berbicara, seperti antara mamak dan kemenakan, antara menantu dan mintuo, dan antara anak kepada orang tuanya. Adapun permasalahan yang dibahas adalah mengenai tuturan orang Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi falsafah hidup suku Minangkabau, nilai-nilai yang ditanamkan dalam kato nan ampek yaitu sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang mana ajaran tersebut sangat berpengaruh kepada umat Islam, adapun nilai-nilainya, nilai malu, nilai parreso, nilai raso, dan nilai sopan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, seperti: merujuk pada buku-buku, skripsi, jurnal, dan internet yang membahas tentang kato nan ampek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mengetahui tentang Etika Kato Nan Ampek Dalam Budaya Minangkabau. Adapun hasil penelitiannya, kato nan ampek menjadi falsafah orang Minangkabau. Bahwa sistem ini lahir dari hubungan antara perkawinan dan juga ada hubungan keluarga dan hubungan antara kerabat. Hal ini juga bermaksud agar antara pihak saling mengerti dan mengetahui tatakrama dan sopan santun dalam bertindak tutur.
Tradisi Upacara Basela Sebagai Kearifan Lokal Suku Anak Dalam (SAD) Jambi Dalam Mempertahankan Kultur di Era Globalisasi
Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman budaya dan setiap daerah mempunyai kearifan lokal yang berbeda-beda. Provinsi Jambi merupakan daerah yang memiliki banyak keanekaragaman budaya dan tradisi. Keberagaman budaya tersebut dapat ditunjukkan oleh beberapa suku di Jambi, antara lain suku Melayu, suku Kerinci, suku Batin, suku Senghulu, suku Anak Dalam (Kubu), dan suku nomaden. Salah satu suku yang paling populer adalah suku Anak Dalam atau sering disebut dengan suku Kubu. Suku Anak Dalam merupakan suku khas yang ada di Provinsi Jambi. Mereka tergolong minoritas dan mempunyai tradisi unik dalam mengobati penyakit, yakni melalui upacara Basela. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali sejarah dan nilai upacara Basela sebagai metode penyembuhan tradisional serta melestarikan kearifan lokal yang terkandung dalam budaya Basela di era globalisasi ini. Dalam pelaksanaannya menggunakan metode penelitian atudy literatur atau penelitian terdahulu seperti artikel, jurnal, buku, dan lain-lain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Basela merupakan warisan budaya yang ditujukan untuk pengobatan non medis dan bentuk doa bagi suku Anak Dalam menghindari bencana. Komunitas batin suku Anak Dalam masih mempertahankan tradisi tersebut hingga saat ini karena mereka sangat memahami nilai-nilai kepercayaan Aimisme.
Cultural Values in Idiomatic Expression of Jambi Malay Language Bungo Malay Dialect: Antropholinguistics Perspective
This research is aimed to describe cultural values that found in the idiomatic expressions of Jambi Malay Language Bungo Malay dialect Then, the research is conducted through several steps, namely, collecting data, analyzing, and presenting the result of data analysis. The methods chosen in collecting data were observational and conversational method, by applying some techniques such as non participant observational technique, note taking technique, elicitation, and recording technique. Then, in analyzing technique, the writer used descriptive qualitative approach by using contextual analysis method in order to explain the cultural values from the expressions. Moreover, the writer used informal method for presenting the result of analysis. The result of research shows that the expressions of idiomatic from the Jambi Malay Language Bungo Malay dialect contain cultural values that have been developed in the society, especially for Jambi Malay speakers that categorized into good and bad values. Besides, the idiomatic expressions that used by Jambi Malay Language Bungo Malay dialect also contains ethics, moral, and politeness
Philosophy of Education and Pedagogy: The Art of Enriching Interactions In Education
This article aims to examine the role and purpose of the philosophy of education while identifying the unique dynamics of its association with educational practice and pedagogical science. Within the realm of education, philosophy of education and pedagogy explore distinct facets of the same subject matter. Rather than acting as competitors, these disciplines, with diverse research functions, possess the potential for mutual complementarity and reciprocal enhancement of their cognitive capacities. The outcomes reveal that as a branch of applied philosophy, philosophy of education does not serve as a direct tool for influencing educational practice. Instead, its primary purpose lies in facilitating comprehension and understanding of crucial issues in the theory and practice of education. In this relationship, pedagogy acts as a mediator, playing a crucial role. In conclusion, the most productive form of the relationship between the philosophy of education and pedagogical science is one of interaction. This interaction fosters mutual enrichment, strengthens their research capabilities, and allows for the fullest realization of their distinct functions. Pedagogy, in particular, has the flexibility to choose from philosophical and educational concepts to develop theories, which are validated through experimentation and directly applied in practice. Philosophy of education, meanwhile, realizes its theoretical functions across all stages of educational activity.
Linguistic Signs On Megalithic Stone Meaning In Gomo South Nias District
This research is entitled linguistic signs on meaning of megalithic stones in Orahili Gomo, South Nias. It explains the sign of the linguistic meaning of the signifier and the signified, the denotative meaning and connotative meaning of megalithic stone. It aims to describe the sequence of signifier and signified and describe the denotative and connotative meaning of megalithic stone. Based on these sources, the data were collected using the observation method and photo techniques. The analysis is carried out with semiotics, the sign of linguistic meaning and the order of the signifier method. The data were analyzed by relating it to the concept proposed by Saussure (2011) and Chandler (2002). Saussure theory is to classify signifier and signified. Chandler theory is to classify denotative and connotative meanings. Result the analysis is presented descriptively. After analyzing the data, it was found there are several specifications of the meaning of megalithic stone. This study shows that megalithic stones have high cultural significance and value, especially in Orahili Gomo. Megalithic stones have the form of signifier and signified and the meaning we can see from the shape and size of megalithic stones.
Totto Chan External Conflict in The Novel Tetsuko Kuroyanagi Totto Chan The Little Girl at The Window
This research is motivated by the existence of Totto-chan's external conflict which is realized by the author in the work of Totto Chan the Little Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi. The purpose of this study is to identify the external conflict experienced by Totto-chan, as well as the causes of the conflict in the novel Totto Chan the Little Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi. In this research the researcher used Structural Analysis theory by Tzvetan Todorov. The method used in this research is descriptive qualitative. The data in this novel are quotes from words, sentences related to the external conflict experienced by the character Totto-Chan. Data collection techniques in this study were reading, marking data and recording data related to external conflicts in the novel Totto Chan the Little Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi. The results of this study indicate that in the novel Totto Chan the Little Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi, the external conflict experienced by Totto-chan is caused by Totto-chan's hyperactive nature which often causes a lot of problems because Totto can't stop moving, causing a lot of stress people are annoyed by it and also Totto's imagination is too high which makes it difficult for Totto to understand the circumstances around her and she always does the things she likes without thinking about the consequences of her actions.
Politeness in Utterance of Pasambahan Batagak Pangulu in Minangkabau Ethnic
Language is a tool used by humans to interact and cooperate with other people. Language also strengthens the relationship between people and their culture, so that a culture can be recognized and maintained. Minangkabau culture always preserves oral traditions such as the pasambahan utterance which is a form of utterance conveyed by both parties in finding solutions or overcoming problems. This research uses a qualitative descriptive method to explore politeness, and the data analysis method used in this research is the equivalent method with referential and transitional determinants, collecting data using observation, documentation, and interview techniques. Then, the data is analyzed by using the technique of sorting the determining element with the distinguishing power of courage. This research uses Leech's theory in finding the maxim and politeness scale. The results of this research indicate that there are politeness maxims and politeness scales in the utterance of pasambahan batagak pangulu in Minangkabau. The maxims obeyed in this speech are 42 and the politeness scale is 42. The forms of politeness maxim compliance found in the pasambahan utterance consist of 10 tact maxims, 2 maxims of generosity, 9 approbation maxims, 10 maxims of modesty, 9 maxims of agreement and 2 maxims of sympathy. The forms of politeness scale found in pasambahan utterances consist of 35 cost-benefit, 10 optional, and 7 indirectness.
The Psychological Conflict of A Woman in Her Family as Seen in Jane Austen’s Persuasion
This research aims to describe the main character, the forms of psychological conflict get by the main character, and the main character efforts to resolve the psychological conflict in the novel Persuasion by Jane Austen. This research uses a literary psychology approach with Hippocrates character theory, Freud's personality, Freud's classification emotions, and Freud's ego defense mechanism. Method of collecting the data in this research is descriptive method. Method of analyzing the data in this research is a qualitative analysis method. Data collection technique of collecting the data in research obtained by library techniques, reading techniques, and notes-taking technique. The data analysis technique of analyzing data in this research is categorization step. The results of the research showed that the main character has a kind, patient, caring, act quickly and logistically, want to be love and love, pessimistic, and willing to sacrifice. The forms of psychological conflict that the main characters get are id, ego, superego, the concept of guilt, shame, hate, and love. The main character efforts to resolve psychological conflict get are regression, sublimation, estimation, repression, rationalization, reaction formation, and displacement.
The Man’s Struggle In Dealing With Life’s Conflict as Seen in John Green’s The Fault in Our Stars
The title of this research is "The Man's Struggle in Dealing With Life's Conflict As Seen in John Green's The Fault In Our Stars". The problem of this research is focused on the problems of internal and external conflicts experienced by woman and man as the main characters. The purpose of this research is to find out the struggles of woman and man as the main characters in dealing with life conflicts described in the novel The Fault in Our Stars by John Green. This research is descriptive qualitative research. The technique used in this research is literature to obtain certain data by searching and collecting several books related to conflict analysis in literature, by quoting sentences or words that indicate conflict, and then describing them. In the main character conflict, there are two characters who are considered as the main characters because they dominate the whole story, they are Hazel and Augustus. The research uses the theory of conflict by Wallek and Warren (1956). Conflict into two parts, namely external conflict and internal conflict. Conflict with other characters in a story or conflict with social environment which is called external conflict. While the conflict that occurs in the heart and mind, in the soul of a character or character in a story is called internal conflict. The results of this research indicate that the development of the main character in the novel is influenced by situations, people, and feelings. At first, Hazel is a girl who likes to be alone, spending her time only at home, reading books and watching tv. She then becomes a girl who wants to share with others and have friends. Augustus at first is a boy who thinks and tries to handle everything on his own, he does not want to be pitied, eventually he realizes that he needs other people in his life and is grateful for what others do to him.
Young Girl as Seen in Anne Frank’s The Diary of A Young Girl
This research is motivated by the existence of personality forms and cool rooms that are hiding places where Anne's maturity grows, which is realized by the mob in Anne Frank's novel The Diary of a Young Girl. The purpose of this study is to identify Anne's personality form, analyze the shape of the foreign space where Anne's maturity grows in Anne Frank's novel The Diary of a Young Girl. The method with the research is descriptive qualitative research and the approach used is literary psychology with psychology literature Sigmund Freud theory. The data in this novel are excerpts from words, sentences related to the personality of Anne's character and forms of foreign space that affect Anne's maturity growth. The data collection techniques in this study were reading, marking the data, recording and distinguishing the data collected based on Anne’s personality and foreign space that influenced Anne’s maturity in Anne Frank novel The Diary of a Young Girl. The result of this study indicate that in the novel The Diary of a Young Girl by Anne Frank, the personality experienced by Anne Frank by is more Id than the Ego and Superego, this is due to the difference in her Mother’s love between herself and older sister, and the form of foreign space that affects Anne Frank maturity is a room called the Secret Annex.